The Journey Of Hendra

sebuah catatan perjalanan

Berita Kepada kawan

Posted by hendrasyahputra pada Januari 22, 2010

Sepuluh tahun lalu seorang pemikir bernama Francis Fukuyama melansir sebuah buku yang sempat menjadi pembicaraan luas di seluruh dunia, berjudul “Trust”. Salah satu bagian penting dari buku itu mengupas tentang apa yang disebutnya sebagai “social capital” atau modal sosial. Fukuyama mendefinisikan modal sosial sebagai norma informal yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, modal sosial akan tampak dari suasana saling percaya antar warga masyarakat. Ada hubungan erat antara modal sosial dengan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat atau bangsa. Negara atau bangsa-bangsa yang tingkat kesejahteraannya tinggi adalah bangsa-bangsa yang memiliki modal sosial tinggi.

Argumennya, rasa saling percaya antar warga masyarakat dan kemauan untuk bekerjasama menyebabkan ”biaya transaksi” dan ”biaya kontrol” menjadi rendah, dan hasilnya adalah kehidupan yang lebih efisien dan produktif. Dengan demikian, sumber daya yang ada, dapat dioptimalkan untuk melakukan kegiatan yang membangun nilai tambah bagi kehidupan masyarakatnya. Melalui kegiatan yang membangun nilai tambah inilah maka multiplier effects bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dapat terwujud..

Sementara itu, dalam tatanan masyarakat yang rasa saling percayanya rendah, diperlukan perangkat kontrol yang berlapis-lapis. Anggota masyarakat sibuk memperjuangkan kepentingan diri, sementara ruang untuk saling memberi sangat sempit. Proses kreatif untuk menemukan cara-cara baru dalam menjalankan kehidupan terhambat, karena setiap inisiatif akan disikapi dengan curiga, bahkan antipati. Sumber daya dan energi yang dimiliki masyarakat dan negara banyak dihabiskan untuk kegiatan yang tidak menghasilkan nilai tambah. Kehidupan keseluruhan menjadi sulit, boros, dan membebani warga.

Masyarakat yang seperti ini sulit untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmurannya. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan ”cadangan” modal sosial, antara lain faktor sejarah, kebudayaan, dan pendidikan. Yang paling menarik adalah bahwa agama dan globalisasi disebut sebagai sumber penting bagi peningkatan modal sosial. Agama (agama apapun) merupakan sumber bagi tumbuhnya nilai-nilai luhur yang menumbuhkan rasa saling percaya dan keinginnan kerjasama. Sedangkan globalisasi memaksa warga dunia untuk berinteraksi dan hidup bersama. Membangun kembali Aceh dan Nias, sungguh memerlukan modal sosial yang sangat besar. Jika masyarakat Aceh relijius, dan jika bencana Tsunami telah membawa Aceh dan Nias ke dalam komunitas global; bisakah kita berharap suasana ini menjadi persemaian bagi tumbuh suburnya modal sosial?. Waktu jualah yang akan menguji.

Ditulis dalam Tulisan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Hillary, Logika Amerika dan Semangat Kemenangan

Posted by hendrasyahputra pada Januari 21, 2010

Kamis *19/02/09. Jam di tangan saya menunjukan pukul 09.00 WIB. Saya duduk di depan TV, yang channel siaranya saya arahkan ke RCTI, yang jam ini menayangkan siaran langsung acara music Dahsyat. Jika tidak hari Sabtu dan Minggu, saya jarang menonton acara tersebut (karena beradu dengan jam kantor), namun kali ini saya siapkan waktu, karena bintang tamunya Hillary Clinton

Siapa yang tak mengenal Hillary. Perempuan sempurna, cantik dan cerdas itu, pernah menjadi istri orang nomor satu Amerika, Bill Clinton, beberapa tahun yang lalau. Kecerdasannya diyakini banyak orang penjadi kunci utama kemenangan Presiden Bill Clinton, pada saat kampanye pemilihan Presiden Amerika, saat itu Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Tulisan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Takdir : Berjuang untuk berserah

Posted by hendrasyahputra pada Januari 21, 2010

(testimoni untuk Achsan Indriadi)

“Kataballohu maqoodiirol kholaaiqo qobla ayyakhluqossamaawaati
wal ardho bi khomsiina alfa sanatin. (Allah telah menulis qodar-qodar nya makhluk limapuluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi – H.R. Muslim dalam Kitabul Qodar)”

***
Sore itu tidak sama seperti sore yang lain. Di dalam benak ku, semua mendadak menjadi gelap. “Masya Allah”, lafadz ku dalam hati dengan bibir bergerak. Aku kaget luar biasa. Kabar yang kudapat dari e-mail,dari sabahat yang sudah seperti adik ku sendiri Dawud Abd, benar-benar membuat sekujur tubuhku lemas seperti tak bisa di gerakan. Achsan Indriadi, sahabatku yang baik divonis dokter terkena penyakit yang sekarang paling ditakuti, H5N1 alias flu burung. Penyakit yang mematikan. “Ya Allah”, kami pasarah padamu. Aku terduduk lemas, semua mendadak gelap dalam benak ku. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kisah Humanis | Tinggalkan sebuah Komentar »

Balada Negriku

Posted by hendrasyahputra pada Januari 21, 2010

Bukan lautan, hanya kolam susu/kail dan jala cukup menghidupimu/ tiada badai tiada topan kautemui /ikan dan udang menghampiri dirimu/orang bilang tanah kita tanah surga/ tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

*** Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Tulisan | 1 Komentar »

Milyar Cinta Untuk Geby dan Caesar

Posted by hendrasyahputra pada Februari 11, 2008

Seribu Cinta buat Geby dan Caesar

Seribu telpon, seribu cumbu, seribu canda, terurai

Seribu kasih sayang, bahkan milyaran dekapan untukmu, cinta

Tak luput dari rindu, setiap pejaman mata, adalah dekapmu

Perjalanan fikirkupun bergumam

Aku teramat mencintaimu..

Semua candamu adalah rindu

Semua  ungkapan malumu adalah banggaku

Kisah ini tak pernah sempurna

Tanpa hadirmu

Milyaran cinta untumu

    

Ditulis dalam Ruang Geby dan Caesar | 1 Komentar »

Menunggu Senja di Mata Ibu ( Aceh)

Posted by hendrasyahputra pada November 13, 2007

1

Pada matamu yang bening, Ibu
aku melihat lautan jauh
Kurasakan gelora semesta dalam kerut kelopak yang mulai menuaMengenal hati dan perasaanKetika aku tak bisa lagi menawar marahmu 

2

Kucoba obatiPerihLukaCerca yang mengembaraKetika kau mulai dipaksaMenjual namamu untuk sebuah keangkuhan yang harus digadaikan

3

Kulihat jejak-jejak langkah kecil tertatih dalam letih matamuBerkelana di ratusan jiwa
Menghadirkan cinta tanpa Cinta.
Kutemukan semesta berhenti dalam genggaman bencimu

Hingga laut pecah dalam rintihanmu
Membawa persik pelipur lara
Yang disematkan di atas rumahmu
 Ibu maafkan kami

Membuat engkau terluka

(Kepada Aceh kutulis goresan ini)

Ditulis dalam Kisah Humanis, Puisi, Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pahlawan is Hero

Posted by hendrasyahputra pada Oktober 28, 2007

Bulan lalu sya ketemu seorang wanita warga negara asing, namanya Sarah Henderson. ia seorang janda berusia 60 tahun, pensiunan, tinggal di New York Amerika Serikat.  Setelah bencana tsunami menghempas Aceh, dia mencairkan tabungan pensiunnya dan pergi ke negeri Serambi Mekkah ini. Dengan uangnya sendiri ia membangun kembali rumah-rumah warga Lamno, di Aceh Jaya.  Selama setahun ini, Sarah pulang balik New York – Banda Aceh, dengan biaya sendiri untuk sebuah tugas mulia. Ia menolong orang-orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, berbeda suku dan agama.  Atas perbuatan mulianya, hampir pasti tak ada yang akan memberinya tanda jasa.  Kini sudah lebih dari 50 rumah beserta kelengkapannya selesai dibangun oleh Sarah Henderson.   Pahlawankah dia?

Lihat lagi, Baharuddin, 49 tahun, sehari-hari dikenal sebagai Keuchik Desa Lamteungoh, Aceh Besar. Tsunami menggulung istri dan lima orang anaknya ke alam barzah. Baharuddin, adalah salah satu dari 105 duda, yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Setelah keadaan tenang Baharuddin memimpin warga yang selamat untuk kembali ke desa. Ia menemukan jenazah putrinya dan turut menguburkannya beramai-ramai dengan warga desa lainnya. Setelah kering air mata duka, Baharuddin mengajak tetangga untuk mendirikan kamp pengungsian dan membangun kembali desanya.  Semangat Baharuddin memperoleh sambutan dari warga.   Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kisah Humanis | Tinggalkan sebuah Komentar »

Sajak Bahagian Hidupku

Posted by hendrasyahputra pada September 17, 2007

Saya sangat menyenangi puisi. Sejak sekolah dasar saya sudah terbiasa menulis. Sajak adalah bahagian tulisan yang saya sukai. Menulis sajak atau puisi seperti menulis keinginan hati yang mengganjal serta kondisi lain yang tengah terjadi. Banyak prestasi yang sedikit banyak teroreh dari sastra dan puisi dalam kehidupan saya. Selain itu saya juga suka membaca puisi, memusikalisasikan puisi adalah juga bahagian dari kesukaan saya. Berikut bahagian lain dari puisi dan cerita berikut juga uraian tentang sajak yang saya sarikan, semoga senang membacanya. Sebelumnya sedikit mengenai manifesto puisi yang sebenarnya :

Manifesto Puisi DI seluruh dunia tidak ada bangsa atau suku bangsa yang tidak mempunyai tradisi puisi, apapun bentuknya dan kekhasannya. Puisi adalah lumbung kekayaan rohani umat manusia.

DI seluruh dunia dari zaman purba, manusia menciptakan puisi dengan fungsi dan tujuan yang bermacam-macam: keagaman, sosial, individual.

PUISI menjadikan hal yang sederhana menjadi aneh, yang mudah dipahami dirumuskan secara berliku-liku, sehingga mengejutkan, malahan bahkan bisa mengelirukan. Tetapi justru keanehan itu menjadikan puisi mengesankan, sukar dilupakan, terpatri dalam ingatan.

PUISI harus berada di pihak manusia korban, manusia yang lemah, yang tertekan, yang terasing atau diasingkan dari kenyataan kekuasan, dari komunikasi kemanusiaan.

DALAM puisi yang memerlukan kesaksian bukanlah kenyataan, bukan fakta dan kekuasaan, melainkan yang mungkin, yang rapuh, yang kelak retak, yang sia-sia.

manifesto Disarikan dari Membikin Abadi yang Kelak Retak,. Kata Pembaca A Teeuw pada buku puisi Goenawan Mohamad ASMARADANA, Gramedia Widiasarana, Jakarta, 1992.  

Ditulis dalam Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar »

Muhammad Yunus dan Grameen Bank (2)

Posted by hendrasyahputra pada September 15, 2007

Pernahkah Anda mendengar nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank? Saya sempat mengeluh dalam hati ketika beberapa anak-anak muda di kantor saya menunjukkan wajah bengong mendengar nama tersebut. Kemana saja mereka selama ini? Apa saja informasi yang ia kunyah sehingga nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank tidak pernah didengarnya? Keterlaluan! Tapi, baiklah!, beberapa di antara kita mungkin sibuk menonton sinetron, Tukul, dan berita kriminal sehari-hari sehingga tidak pernah dengar nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank.

Beliau adalah pemenang Nobel Perdamaian 2006 atas usahanya yang tidak mengenal lelah mengentaskan kemiskinan di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank, bank khusus untuk dan milik orang miskin.Saya sudah mengagumi orang hebat ini ketika pertamakali membaca beritanya bertahun-tahun lalu. Sebagai ‘lulusan’ orang miskin, saya tahu betapa jarangnya orang yang mau mendedikasikan dirinya untuk membantu orang miskin. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk mencari kekayaan sendiri dan menganggap orang miskin adalah penyakit sampar yang harus dicurigai dan dijauhi.

Cerita tentang Muhammad Yunus dan Grameen Banknya sangat banyak kita temui di berbagai media. Saya sudah pernah membaca bukunya, artikel-artikel tentangnya, dan bahkan menonton acaranya di Oprah Show. Saya menonton hampir tak berkedip. Ketika Oprah bertanya mengapa ia percaya bahwa orang miskin akan bisa membayar pinjaman tanpa kolateral alias agunan, beliau menjawab :”Fakta bahwa mereka adalah manusia sudah cukup bagi kita untuk mempercayainya.” Dan air mata saya mengalir tanpa bisa saya cegah. Ya, Tuhan! Betapa saya mencintai orang ini. Seandainya saya bisa bertemu, menyentuh, mendengarkan dan berbicara dengannya, sungguh akan merupakan momen yang sangat luar biasa bagi saya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Catatan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Dari Muhammad Yunus Buat Kaum Miskin (bagian 1)

Posted by hendrasyahputra pada September 15, 2007

Mengisi akhir pekan saya selalu menyempatkan diri membaca buku. Kesibukan yang tak mengenal waktu karena pekerjaan yang ritmenya tak bisa ditebak,, membuat saya harus menyiapkan waktu pula buat membaca, hobi yang paling saya suka. Minggu ini saya membaca buku Muhammad Yunus, Bank Kaum Miskin. Mendengar nama Muhammad Yunus, tentu tidak asing lagi. Apalagi setelah beliau mendapat nobel perdamaian. Namun kisah yang ditorehkan sosok lelaki Pakistan tersebut, tidak sembarangan. Mendunia dan spektakuler

Dari seorang teman baik saya, Fahmi Yunus, saya mendapatkan informasi buku ini. Karena tengah bertugas di ujung Pulau Sumatera, saya memesan buku ini dari seorang sepupu saya, Shanty. Trims ya Shanty.

Muhammad Yunus “teladan perjuangan melawan kemiskinan” (mengutip sebutan Hugo Chavez, Presiden Venezuela untuk beliau) tahun 2006 yang lalu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang telah beliau lakukan buat negara dan perekonomian bangladesh sampai bisa menggugah dunia dan menjadi obyek percontohan buat negara2 berkembang seperti Indonesia. Jadilah pas ketemu buku ini saya langsung semangat untuk membacanya . Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Catatan | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.