Posted on Februari 18, 2008 by hendrasyahputra
Pengalaman dan keadaan adalah paparan emosi yang seharusnya murni
Paparan emosi adalah bahan mentah, berkah dari kota bertuah
Berkah untuk 4 mata, 4 telinga, 2 kepala, membuat mahakarya agung menjadi nyataKata mereka: kata-kata hanyalah kata-kata, demikian juga tulisan, hanyalah manifestasi dari bahasa
Jikalau mereka tahu, aku bisa menelanjangi diriku sekalipun tetap berpakaian utuh, melalui kata dan tulisan,
mereka mungkin hanya bisa bisu, dan mencoba lagi untuk menelaah simbol-simbol yang ada
Katanya: ini adalah bakat seorang seniman
Yang memaparkan paragraf sinis untuk pernyataan kalimat sebaris
Yang tidak suka memberi nama pada warna yang terlihat sebagai warna, lebih baik dinikmati
Yang mencoba berargumentasi secara persuatif melalui anak-anak yang mereka lahirkan
Tetapi aku??.. seniman?!
Entahlah.. tidak dapat kupastikan..
Aku hanya suka berkarya, bercerita kepada dunia tentang dunia itu sendiri
Aku ingin mereka mendengar, melihat dan mengenalku,
Ada bingkisan indah yang hendak kuhadiahkan:
Kisah-kisah hina yang dibangun lagi dengan rasa percaya
suatu saatKetika anak-anakku mulai bisa berbicara, tanpa kusadari mereka mulai bercerita tentang aku, dengan bahasa yang kadang terlalu unik untuk kalangan awam,
Bisa kumaklumi karena mereka masih kecil, dan bagiku suara yang mereka lontarkan begitu berartiMungkinlah nanti dunia tersenyum pada saat aku menangis,
Mungkinlah nanti dunia menangis saat aku tersenyum,
Karena ada saatnya aku telanjang, tanpa perlu merasa malu
Mereka pun akan tahu itu…
Apakah aku seniman?..
Katanya..
Hmm.. entahlah..
Tidak dapat kupastikan.. Semuanya kutulis dalam hijau Merindumu, 18 Pebruari 2008
DIarsipkan di bawah: Puisi | Leave a Comment »
Posted on Februari 11, 2008 by hendrasyahputra
Seribu Cinta buat Geby dan Caesar
Seribu telpon, seribu cumbu, seribu canda, terurai
Seribu kasih sayang, bahkan milyaran dekapan untukmu, cinta
Tak luput dari rindu, setiap pejaman mata, adalah dekapmu
Perjalanan fikirkupun bergumam
Aku teramat mencintaimu..
Semua candamu adalah rindu
Semua ungkapan malumu adalah banggaku
Kisah ini tak pernah sempurna
Tanpa hadirmu
Milyaran cinta untumu
DIarsipkan di bawah: Ruang Geby dan Caesar | 1 Komentar »
Posted on Januari 15, 2008 by hendrasyahputra

(Ki-ka : Oop dan Aku, makan rambutan Jantho)
DIarsipkan di bawah: Kisah Humanis | Leave a Comment »
Posted on Januari 15, 2008 by hendrasyahputra

Bukan Meteor Garden (Ki-Ka, Ozan, Tris, Aku dan Sugeng)
DIarsipkan di bawah: Kisah Humanis | Leave a Comment »
Posted on Januari 15, 2008 by hendrasyahputra
Perjalanan pastilah tak mesti jauh. Apalagi jika itu untuk memaknai diri, lebih – lebih untuk meningkatkan perbaikan diri. beberapa waktu yang lala, aku bersama teman-teman ke Jantho, sebuah lokasi wisata di Nanggroe Aceh Darussalam. perjalanan sangat penuh dengan nilai -nilai perubaham dan keteladanan. melihat bagaimana keluarga-keluarga transmigrasi di Aceh berjuang dan memenuhi kebutuhan mereka, membuat makanan yang akan dijual di pasar, dan mereka sukses.
Satu hal lagi, ternyata mereka tertempa dengan kondisi yang sulit, hingga mampu menerobos kehidupan sulit tersebut dan maju melesat meninggalkan kemiskinan. Sungguh luar biasa. Padahal tak banyak yang tahu tentang kehidupan mereka.
Aku jadi teringat tulisan seorang Profesor TB. Sjafri Mangkuprawira. kira kira begini tulisanya.
Katakanlah terdapat bisnis kotor seperti dalam bentuk manipulasi mutu, jumlah, harga, kemasan, dan penimbunan barang,dsb. Bisnis seperti itu sangat dipengaruhi oleh derajad moral perilaku bisnis (langsung dan tidak langsung) sehingga prioritas pendekatan perubahan harus mulai dari unsur manusia. Mengapa? Karena secara fitrah manusi dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih. Hanya faktor lingkungan saja yang menyebabkan manusia dapat berubah menjadi tidak beretika. Bisnis sebagai sistem kehidupan sosial masyarakat sangat terkait dengan sistem nilai dan norma sosial dalam wujud etika. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kisah Humanis | Leave a Comment »
Posted on Januari 14, 2008 by hendrasyahputra




(sayur asem, nasi bakul, lalapdan sambal, ikan bakar)
Berlibur. Kata-kata tersebut, tentu sudah biasa dab menjadi bahasan sehari hari di akhir pecan. Deminian juga dengan Aku dan temen-teman yang selama seminggu lebih disibukan dengan kepenatan dan padatnya jadwal kegiatan dan kerja, yang menuntut intensitas energi dan fikiran yang full. Akhir pekan saatnya berlibur….Tujuan kami kali ini adalah Jantho.
Kota Jantho adalah sebuah kecamatan yang di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kota Jantho juga merupakan ibukota dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar. Perjalanan menuju Jantho, bias ditempuh dengan waktu 1,5 jam atau 45 km dari pusat Kota Banda Aceh. Suasana sangat menyenangkan, cuaca mendukung pula. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kisah Humanis | Leave a Comment »
Posted on Nopember 13, 2007 by hendrasyahputra
1
Pada matamu yang bening, Ibu
aku melihat lautan jauhKurasakan gelora semesta dalam kerut kelopak yang mulai menuaMengenal hati dan perasaanKetika aku tak bisa lagi menawar marahmu
2
Kucoba obatiPerihLukaCerca yang mengembaraKetika kau mulai dipaksaMenjual namamu untuk sebuah keangkuhan yang harus digadaikan
3
Kulihat jejak-jejak langkah kecil tertatih dalam letih matamuBerkelana di ratusan jiwa
Menghadirkan cinta tanpa Cinta. Kutemukan semesta berhenti dalam genggaman bencimu
Hingga laut pecah dalam rintihanmu
Membawa persik pelipur lara
Yang disematkan di atas rumahmu Ibu maafkan kami
Membuat engkau terluka
(Kepada Aceh kutulis goresan ini)
DIarsipkan di bawah: Kisah Humanis, Puisi, Uncategorized | Leave a Comment »
Posted on Nopember 2, 2007 by hendrasyahputra
Oleh –oleh tulisan Bapak. Prof. TB. Sjafri Mangkuprawira
Anda senang berada dalam kemapanan hidup dan kehidupan? Malas dan malah tidak peduli dengan perkembangan lingkungan yang ada? Hati-hati kalau anda bersikap seperti itu. Anda seolah memandang dunia kehidupan hanyalah sempit dan terbatas pada nurani anda saja. Tidak ada kaitannya dengan nurani sebagian besar warga lingkungan sekitar. Padahal ketika berbicara sistem, anda adalah bagian sub-sistem dari entitas sosial atau bahkan bagian dari kehidupan sosial ekonomi yang lebih luas. Dan antarsub-sistem saling berkait. Misalnya dalam dunia bisnis yang penuh tantangan; pertanyaannya anda berada pada posisi mana. Kalau anda sendirian mampukah anda hidup berbisnis tanpa melakukan perubahan. Tanpa berinteraksi dalam aktifitas bisnis dengan pihak lain? Sementara pihak lain tersebut sudah terbang jauh menggapai tujuan yang berubah sesuai dengan tuntutan perubahan?.
Ketika misalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berubah (semakin maju) maka wajarlah setiap pelaku bisnis terdorong melakukan penyesuaian misi dan tujuan serta strategi bisnisnya. Mereka melihat suatu perubahan dengan penuh makna. Artinya disitu ada peluang maju. Kalau tidak, bakal ketinggalan bahkan terlindas oleh perubahan itu sendiri. Bagi mereka yang senang tantangan, perubahan diposisikan sebagai kebutuhannya. Sebagai sesuatu yang indah. Tak patut dicemaskan. Perubahan tidak dijauhi tetapi malah dinikmati. Mengapa? Karena disitu ada seni dan ilmu bagaimana perubahan dapat dikelola secara optimum. Disitu pula ada potensi kreatifitas dalam berinovasi.Walaupun sempat babak belur; naik turun performa namun sang pebisnis tersebut selalu merasa optimis.
Keindahan lainnya dari suatu perubahan dicirikan oleh kesiapan setiap pelaku bisnis dalam menghadapi resiko gagal. Seperti Henry Ford (pendiri perusahaan Ford Motor) katakan, kegagalan adalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih baik. Malah, Walter Wriston (mantan pemimpin umum Citicorp) melihat kehidupan merupakan proses pengaturan resiko, bukan penghapusannya. Nah ada lagi yang perlu diingatkan bagi mereka yang anti perubahan; ”jangan hanya duduk dan menunggu kesempatan yang datang….Bangkit dan ciptakanlah kesempatan itu” (Madam C.J.Walker,Pendiri Perusahaan Manufaktur). Dan ”sukses berasal dari fokus yang terus menerus pada pembaruan” (Gary Tooker, CEO Motorola).
DIarsipkan di bawah: Belajar Manajemen | Leave a Comment »
Posted on Oktober 29, 2007 by hendrasyahputra
BERITA KEPADA KAWAN
Sepuluh tahun lalu seorang pemikir bernama Francis Fukuyama melansir sebuah buku yang sempat menjadi pembicaraan luas di seluruh dunia, berjudul “Trust”. Salah satu bagian penting dari buku itu mengupas tentang apa yang disebutnya sebagai “social capital” atau modal sosial. Fukuyama mendefinisikan modal sosial sebagai norma informal yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, modal sosial akan tampak dari suasana saling percaya antar warga masyarakat. Ada hubungan erat antara modal sosial dengan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat atau bangsa. Negara atau bangsa-bangsa yang tingkat kesejahteraannya tinggi adalah bangsa-bangsa yang memiliki modal sosial tinggi. Argumennya, rasa saling percaya antar warga masyarakat dan kemauan untuk bekerjasama menyebabkan ”biaya transaksi” dan ”biaya kontrol” menjadi rendah, dan hasilnya adalah kehidupan yang lebih efisien dan produktif. Dengan demikian, sumber daya yang ada, dapat dioptimalkan untuk melakukan kegiatan yang membangun nilai tambah bagi kehidupan masyarakatnya. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Belajar Politik dan Pemerintahan | Leave a Comment »
Posted on Oktober 28, 2007 by hendrasyahputra
Bulan lalu sya ketemu seorang wanita warga negara asing, namanya Sarah Henderson. ia seorang janda berusia 60 tahun, pensiunan, tinggal di New York Amerika Serikat. Setelah bencana tsunami menghempas Aceh, dia mencairkan tabungan pensiunnya dan pergi ke negeri Serambi Mekkah ini. Dengan uangnya sendiri ia membangun kembali rumah-rumah warga Lamno, di Aceh Jaya. Selama setahun ini, Sarah pulang balik New York – Banda Aceh, dengan biaya sendiri untuk sebuah tugas mulia. Ia menolong orang-orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, berbeda suku dan agama. Atas perbuatan mulianya, hampir pasti tak ada yang akan memberinya tanda jasa. Kini sudah lebih dari 50 rumah beserta kelengkapannya selesai dibangun oleh Sarah Henderson. Pahlawankah dia?
Lihat lagi, Baharuddin, 49 tahun, sehari-hari dikenal sebagai Keuchik Desa Lamteungoh, Aceh Besar. Tsunami menggulung istri dan lima orang anaknya ke alam barzah. Baharuddin, adalah salah satu dari 105 duda, yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Setelah keadaan tenang Baharuddin memimpin warga yang selamat untuk kembali ke desa. Ia menemukan jenazah putrinya dan turut menguburkannya beramai-ramai dengan warga desa lainnya. Setelah kering air mata duka, Baharuddin mengajak tetangga untuk mendirikan kamp pengungsian dan membangun kembali desanya. Semangat Baharuddin memperoleh sambutan dari warga. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kisah Humanis | Leave a Comment »