Bermain dengan Bingkai

Percakapan di Tepi Pantai
Percakapan di Tepi Pantai

Memotret lama diketahui ibarat memindahkan apa yang kita lihat melalui kamera untuk kemudian dicetak. Cetakan foto itulah yang seolah-olah mewakili kita menikmati kembali “pandangan” mata kita.

Menariknya sebuah foto adalah bagaimana kita bisa menggambarkan sesuatu yang “biasa” menjadi lebih. Komposisi, warna, dan angle atau sudut pandang saat mengambil gambar dan menyajikannya kembali menjadi penentu bagaimana menariknya sebuah foto. Foto candid tentu saja berbeda dengan foto salon. Untuk foto candid, semua orang bisa melakukannya. Namun, lebih di atas itu orang memerlukan keterampilan fotografi, di samping sedikit rasa seni

31.jpg
Membingkai matahari

Bersyukurlah, kini teknologi digital sangat membantu. Seorang awam bahkan kini bisa berkreasi menyajikan sebuah foto yang unik, nyeni, dan menarik, layaknya seorang fotografer sungguhan. Salah satu cara untuk menikmati foto adalah bermain dengan bingkai (frame). Semua orang tahu bingkai akan menentukan bagaimana sebuah citra rasa foto disajikan. Untuk itulah harga sebuah bingkai bisa bervariasi, dari yang hanya seharga puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.Namun, bingkai yang dimaksud di sini adalah bagaimana kita memanfaatkan elemen-elemen yang ada di alam, di sekitar kita, untuk berperan dalam sebuah komposisi foto.

Bukan hal baru memang. Sejumlah fotografer, tukang foto, atau awam biasa menggunakan itu. Namun, untuk menyajikan semua itu perlu ketekunan, kesabaran, dan terus mencoba. Elemen untuk dijadikan bingkai tersebut tersebar di sekitar kita, mulai dari daun jendela, jeruji besi, tiang jembatan, pintu, lubang angin, daun, batang pohon apa saja.Keasyikan dari kamera digital adalah kita bisa melihat langsung dari hasil eksperimen kita bermain bingkai dalam foto kita. Kita bisa mencoba berulang kali, mencoba menggunakan flash, bukaan rana tinggi atau rendah, dan sebagainya. Sesaat kita sudah melihat hasilnya. Jika tidak suka, kita tinggal menghapusnya atau membuangnya ke trashbin, untuk kemudian mencoba lagi.Kemudahan seperti itu sulit dibayangkan jika kita menggunakan kamera konvensional dengan film negatif (klise) yang harus diproses dulu di laboratorium foto untuk dapat dinikmati hasilnya.