Oleh -oleh Bertemu dengan Mahathir Muhammad
Sungguh momentum terindah ketika saya bias bertemu langsung dan berjabat tangan dengan sosok yang selama ini pernah menjadi orang nomor satu di Malaysia. Mahatir Muhammad . atas undangan komunitas lintas budaya, saya menghadiri undangan penganugerahan Gelar Terhormat, Doctor Honoris Causa, bidang economic development, dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis (3/5/07). Saya memanfaatkan pertemuan langsung ini dengan baik. Berbekal naluri jurnalis, saya menjalani serangkaian kegiatan, untuk akhirnya bias langsung bertatap muka dengan tokoh yang dikenal sebagai Maestro
Malaysia itu.
Aku juga sempat memberikan sebuah puisi yang telah aku persiapkan buat Tun Dr. Mahathir Mohamad, judulnya, Di saat negeriku riang menyambut sang pemimpin baru, pikiranku terpelanting padamu, wahai sang guru.
Betul, dengan keberkahan pertemuan itu, banyak yang bias dipetik dari sikap, cara bertutur, cerdas dan rendah hati. Mahatir, dimata saya, sosok yang menjadi simbol pemimpin Islam karena lahir di tengah keluarga agamis dan merefleksikan nilai keislaman diharapkan dapat menebarkan kesantunan dan keteduhan rahmatan lil alamim. Harapan yang semakin jauh dari perilaku pemimpin di negeriku.
Saya terkesima karena sikapnya sungguh berlainan dengan kebanyakan pemimpin di sini. Di sini, sebagian orang yang berada di atas, umumnya tabu menghubungi, apalagi menyanjung seseorang yang di bawah. Engkau melepaskan atribut sebagai pejabat teras di universitasmu untuk menghubungiku.
Apa yang terelefleksi dari bentuk hubungan antarmanusia yang demikian? Kearifan untuk menanggalkan jubah kebesaran demi menjalin hubungan antarmanusia. Islam pun keras melarang sesama kaumnya agar tak memutuskan silaturahmi. Bahkan, begitu banyak hadis Nabi SAW mengenai hubungan antarmanusia, di antaranya amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim (HR. Athabrani).
Sayang, kita seringkali abai, terhadap ajaran Rasulullah. Kita, bahkan, alpa ajaran Rasulullah sembari merapatkan jari-jarinya mengatakan, ‘’seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan saling mengokohkan satu dengan lain.” (HR. Mustafaq’alaih)
Yang aku sempat petik dan ingat dari ucapanya saat petemuan adalah, “Apa yang menyebabkan kita sombong? Superioritas seringkali menghijab kita dalam menjalin silaturhami maupun membangun ukhuwah islamiyah. Kedudukan yang tinggi semestinya digunakan agar kita dapat leluasa melihat ke bawah. Sayangnya, kita enggan menoleh ke bawah, ketika berada di ketinggian. Di saat berkecukupan, kita justru menjadi diraja yang mesti dilayani, bukan dengan bekal yang cukup memberi pelayanan kepada yang tak mampu.
Kita memang seringkali belum mempraktikkan nilai-nilai islami dalam hidup keseharian. Tak mengherankan, jangankan mempraktikkan kehidupan yang islami, kita seringkali gagap menerjemahkan budaya paternalistik: sebagai bapak semestinya kita menjadi guru yang digugu, bukan membalikkan keluhuran budaya paternalistik dengan menjadikan diri sebagai sentral kekuasaan semua orang harus sowan pada kita. Bukankah di saat kita menjadikan diri sebagai sentral kekuasaan, sejatinya telah menjadi tuhan kecil, jika tak ingin menyebut musyrik?
Seorang guru selayaknya memang menjadi penolong. Kesejatian jiwa seorang guru menyebabkanmu ingin melayani, memberi sinar untuk menerangi kegelapan, memberikan keteduhan rahmatan lil alamim. Kesejatian seorang guru memiliki keikhlasan lilin yang rela mencair demi menerangi kegelapan. Untuk itu, seseorang selaiknya memiliki kearifan, tak tersihir dengan pesona kekuasaan (kekuasaan dapat juga berarti menguasai ilmu pengetahuan). Tapi, ia justru menggunakan kekuasaannya, untuk memberi. Maka, engkaulah sang guru yang mengajarkan untuk memberi kepada kehidupan. Dapatkah pemimpin di negeri ini seperti Mahatir, maupun terutama para pemimpin di negeriku, memiliki kesejatian seorang guru untuk memberi kepada kehidupan (rahmatan lil alamim)? semoga
DIarsipkan di bawah: Kumpulan Catatan


