Pahlawan is Hero

Bulan lalu sya ketemu seorang wanita warga negara asing, namanya Sarah Henderson. ia seorang janda berusia 60 tahun, pensiunan, tinggal di New York Amerika Serikat.  Setelah bencana tsunami menghempas Aceh, dia mencairkan tabungan pensiunnya dan pergi ke negeri Serambi Mekkah ini. Dengan uangnya sendiri ia membangun kembali rumah-rumah warga Lamno, di Aceh Jaya.  Selama setahun ini, Sarah pulang balik New York – Banda Aceh, dengan biaya sendiri untuk sebuah tugas mulia. Ia menolong orang-orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, berbeda suku dan agama.  Atas perbuatan mulianya, hampir pasti tak ada yang akan memberinya tanda jasa.  Kini sudah lebih dari 50 rumah beserta kelengkapannya selesai dibangun oleh Sarah Henderson.   Pahlawankah dia?

Lihat lagi, Baharuddin, 49 tahun, sehari-hari dikenal sebagai Keuchik Desa Lamteungoh, Aceh Besar. Tsunami menggulung istri dan lima orang anaknya ke alam barzah. Baharuddin, adalah salah satu dari 105 duda, yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Setelah keadaan tenang Baharuddin memimpin warga yang selamat untuk kembali ke desa. Ia menemukan jenazah putrinya dan turut menguburkannya beramai-ramai dengan warga desa lainnya. Setelah kering air mata duka, Baharuddin mengajak tetangga untuk mendirikan kamp pengungsian dan membangun kembali desanya.  Semangat Baharuddin memperoleh sambutan dari warga.  

Saat ini desa Lamtutui merupakan salah satu desa yang perkembangannya paling pesat. Ratusan rumah sudah terbangun, tanggul air laut sudah berdiri, kehidupan nelayan sudah normal kembali di bawah kepemimpinan Baharuddin. Pantaskah Keuchik Baharuddin disebut pahlawan?Jenderal Endriartono Sutarto, Desember 2004 terlibat perdebatan sengit dengan Wakil Rakyat di Senayan.  Para anggota DPR mempersoalkan masuknya pasukan asing ke Aceh untuk menolong korban Tsunami, terutama yang masih hidup yang memerlukan bantuan makanan, obat-obatan, dan evakuasi. 

Ketika tsunami terjadi, Sutarto memang segera mengontak koleganya, para Panglima tentara negara-negara sahabat: Singapura, Australia, Malaysia, Inggris, hingga Amerika Serikat.  Dengan Jenderal Peter Cosgroove dari Australia, dan Laksamana Fargo dari Amerika Serikat, dan Panglima-panglima negara lainnya,  Sutarto menjalin hotline 24 jam. Menyikapi tindakan ini, sejumlah wakil rakyat yang “paranoid” dengan nasionalisme, mempersalahkan Jenderal Sutarto. Sang Jenderal menjawab, ”lebih baik saya disebut tidak nasionalis, dari pada membiarkan korban mati tidak tertolong”.  Maka bantuan dari tentara negara-negara sahabat pun berdatangan. 

Tak kurang dari 18 negara mengirimkan tentaranya. Inilah operasi militer bukan tempur terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah militer modern.  Operasi ini melibatkan 16.000 prajurit,  9 kapal induk, 1 rumah sakit terapung, 117 tim medis, 14 kapal perang, 31 pesawat udara, dan 82 helikopter.   Dengan itu korban jiwa lebih besar dapat dihindari.   Kita berfikir sejenak dan bertanya, apakah Jenderal Sutarto dan 16.000 tentara lainnya layak disebut pahlawan? Krisis selalu saja melahirkan keputusan penting, langkah-langkah berani, tindakan strategis, dan tokoh-tokoh pelopor. Musibah gempa bumi dan tsunami, Desember 2004 adalah krisis besar yang tak ada duanya.   Maka muncullah cerita dan tokoh di atas.  Ada ratusan, bahkan ribuan individu yang melakukan tindakan kebajikan, kepeloporan, dengan gagah berani menempuh tantangan.  Prajurit TNI dan Anggota POLRI yang membuka daerah terisolasi, relawan PMI yang mengevakuasi puluhan ribu jenazah, hingga wartawan yang menembus wilayah sulit untuk mengabarkan kebutuhan warga yang tak tersentuh bantuan.  Ribuan relawan kemanusiaan dari berbagai organisasi pernah membanjiri Aceh dan Nias.  Hingga kini tak kurang dari 300 organisasi masih berada di wilayah bencana, bahu membahu membangun kembali pemukiman, sekolah, rumah sakit, dan kehidupan masyarakat. Apakah mereka pahlawan? 

Di lain pihak, kita juga menyaksikan ribuan penggiat LSM yang memilih menjadi “pengawas” hiruk pikuk kesibukan membangun kembali Aceh dan Nias.   Ada pula yang terus rajin mencari kesempatan untuk menggerakkan emosi masyarakat, memobilisasi demonstrasi demi demonstrasi.   Tokoh-tokoh kelompok ini tak kalah populer dengan para pekerja kemanusiaan yang berpeluh menolong korban, mengerahkan segala daya dan upaya.   Bahkan sering kali, para “pengawas” jauh lebih populer karena keterampilannya memilih isu-isu yang populis dan kepandaiannya merangkai kalimat-kalimat yang bombastis.  Pahlawankah mereka? Kita tentu mengucapkan terima kasih dan penghargaan tulus atas semua inisiatif, peran, tindakan berani dan kepeloporan. Sejauh mana tindakan itu menjadikan seseorang pahlawan atau oportunis yang mencari panggung eksistensi, jawabnya tergantung dua hal. Pertama, apakah yang dilakukannya benar-benar memberi manfaat bagi orang banyak. 

Kedua, apakah motif yang mendasari benar-benar diabdikan bagi kepentingan masyarakat, dan bersih dari bias kepentingan pribadi.  Maka itu, waktulah yang akan menguji.  Satu hal yang pasti, pekerjaan besar membangun kembali Aceh dan Nias memerlukan tindakan-tindakan nyata.  Tindakan yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.  Tentang kepahlawanan, biarlah sejarah yang akan mengujinya.

Tinggalkan Balasan